Hari Minggu 14 Desember 2008, siang setelah menghadiri resepsi pernikahan rekan kerja kami di BMG Yogya Ari Sungkowo di Srandakan, kita rombongan pegawai BMG Yogya dan Keluarga main ke Pantai Depok Parangtritis Bantul, Jadi ingat punya Sahabat Bakosurtanal yang bertugas di Laboratorium Geospasial Pesisir Parangtritis, Pak Anto, lengkapnya pak Gunadi Yunianto, kita telpon beliau, terus kita mampir ke kantornya, wah keren, Laboratorium ini berguna untuk aktivitas ilmiah dan kegiatan rekreasi, dimana di tempat tersebut terdapat fenomena alam, gumuk pasir dan di museum tersebut juga dilengkapi beberapa instrumen dan pustaka tentang geospasial dan ilmu kebumian.

akan bertahan berapa lama gumuk pasir itu ada,karena kalau kita lihat suplay pokok dari terbentuknya pasir adalah kali opak,,,saat ini kali opak sudah tidak seperti dulu lagi saat mensuplay material ke pantai selatan,..kita lihat barrier yang di buat amanusia mulai dari hulu sana………………kita juga bisa lihat aktivisas pengambilan pasir yang berlebihan….selain memnbuat sungai menjadi dalam juga secara tidak langsung …lambat tapi pasti sudah mengubah ekosistem yang ada sepajang aliran opak terutama di muara…………..dulu aku mandi di sumur ambil air mengunakan timba bandul paling 2 meter dalamnya………sekarang…..pake pompa listrik saja yang terlihat pasir,……………………dulu rawa sebelah timur museum kaya sekali dengan keaneka ragaman hatinya (tumbuhan dan hewan)..bahkan di sebelah barat dan selatan museum ada rawa gumuk yang cukup dalam…………….saat ini aku hanya berharap…..gumuk pasir nasipnya jangan sepertu museum…menjadi benda mati dalam diorama dan photo-photo hitam putih,…..aku berharap kelak gumuk pasir tetap ada selalu berbisik lirih saat angin berhembus………………………………….dan akan selalu melukiskan tapak kaki kita ketika kaki telanjang merengkuhnya…………..9 tahun sudah cukup untuk mengembalikan keberadaannya….namun yang tumbuh adalah tembok dan atap pemrintah dan pendatang bukan lagi sebuah ikrar untuk menyelamatkan gumuk pasir yang lahir september 2000 lalu,andaikan kamu sekalian lihat perjuangan seorang laki-laki yang sekarang telah renta…mungkin kalian akan bertanya apa yang telah kamu dapat selama ini….ketika usiaku 7 tahun.aku pernah diajak oleh kakekku untuk ambil buah siwalan yang sudah matang dari ujung timur…kalau tidak slah tempatnya pak kemakmuran,,sepanjang jalan kakekku menanam buah siwalan itu dengan cangkulnya,,,ketika usiaku 19 tahun dan kebetulan aku pulang ke depok aku melihat pohon itu tlah tumbul dan berbuah dan sudah di claim bahwa itu tanaman siempunya lahan….aku juga masih ingat apa yang dikatakan kakeKku saat itu,MEN KISIKI ORA MLAKU MENGALOR…TAHUN 2000 aku dan kawan-kawan sepakat ajak warga untuk kembali peduli dengan Gumuk Pasir …20 sept 2000 dusun 4 dan 5 plus beberapa perwakilan dari dusun lain sepakat untuk menanami kembali gumuk pasir ,…sepele sing di gagas…OJO ONO KEWAN SING DIUMBAR….ORA OLEH NEGOR WIT-WITAN SALIYE SING NGANGGU DALAN…………..salam
Aku bangga dan sekaligus prihatin adanya gumuk pasir di Parantritis.
Bangga,
karena sebagai penduduk DIY mempunyai sebuah fenomena alam yang berupa gumuk pasir yang sangat menakjubkan dan bahkan hanya satu-satunya tempat di Indonesia yang terdapat gumuk pasir bahkan di dunia.
Gumuk pasir dengan lab. Geospasialnya sangat diperlukan sebagai kajian ilmu pengetahuan bagi para siswa, mahasiswa maupun para ilmuawan.
Prihatin,
karena keberadaan gumuk-gumuk pasir saat ini teramcam keberadaannya, karena tempat terjadinya gumuk-gumuk pasir ini tergusur oleh hunian manusia yang entah legal atau ilegal. Rumah-rumah (atau bisa disebutu gubug-gubug) ini sangat mengganggu terbentuknya gumuk pasir, bahkan gubug-gubug ini juga sangat mengganggu pemandangan dan keindahan pemandangan alam