Yang menjadi Inti perbedaan adalah tentang terlihatnya bulan sabit tipis disaat matahari terbenam di tanggal 29 atau 30 kalender islam. Kalender islam didasarkan pada peredaran bulan. Tanggal 1 dalam kalender islam ditandai dengan terlihatnya bulan sabit tipis yang terlihat di dekat ufuk barat, sesaat setelah matahari terbenam. Pergantian hari dalam kalender islam ialah saat matahari terbenam. Jumlah hari dalam 1 bulan kalender islam adalah berselang-seling 29 hari atau 30 hari.Bulan sabit tipis akan terlihat jika telah terjadi konjungsi, yaitu bulan terletak dalam satu garis lurus dengan bumi dan matahari. Saat terjadinya konjungsi dapat dihitung dengan tepat menggunakan ilmu astronomi.
Muhammadiyah berpendapat cukup dengan menghitung saat terjadi nya konjungsi untuk menentukan tanggal 1 kalender islam, jika konjungsi terjadi sebelum matahari terbenam maka telah menjadi tanggal 1 setelah saat magrib tersebut. Jika konjungsi terjadi setelah matahari terbenam maka tanggal 1 dimulai saat matahari terbenam berikutnya di esok hari. Pendapat pihak ini sama sekali tidak memperhitungkan tinggi bulan saat matahari terbenam sebagai syarat terlihatnya bulan sabit tipis, padahal bulan sabit tipis hanya akan terlihat jika konjungsi minimal terjadi 8 jam atau lebih sebelum matahari terbenam. sehingga bulan memiliki ketinggian diatas ufuk sekitar 2 derajad atau lebih saat matahari terbenam. Tetapi pendapat ini juga memiliki keunggulan bahwa tanggal 1 kalender islam bisa ditentukan secara lebih pasti dan penentuannya bisa untuk jangka yang panjang ke depan.
NU (Nahdhatul Ulama) berpendapat untuk menentukan tanggal 1 kalender islam harus dengan melihat langsung dengan mata manusia bulan sabit tipis yang terlihat di sekitar ufuk saat matahari terbenam setelah terjadi konjungsi. Melihat dengan mata manusia bisa dibantu dengan alat-alat mekanik dan elektronik modern misalnya teropong, teodolit, teleskop, kamera digital dan sejenisnya. Terdapat beberapa permasalahan yaitu terkadang pengamat melihat benda langit lain yang mirip dengan bulan sabit, misalnya di saat matahari terbenam terkadang planet merkurius juga terlihat di langit barat, yang oleh pengamat bisa di salah artikan sebagai bulan sabit tipis, masalah yang lain yaitu halangan penglihatan untuk melihat bulan sabit yaitu langit yang tertutup awan, atau gangguan atmosfer lainnya (gumma) sehingga bulan sabit tidak terlihat oleh pengamat. Masalah ini dapat diatasi dengan menggunakan perhitungan ilmu astronomis, sehingga sebelum melihat langsung dengan mata, seorang pengamat telah memiliki data hasil perhitungan yang memberi informasi letak kedudukan, arah dan posisi bulan sabit tipis tersebut, dan perhitungan ilmu astronomis ini telah digunakan di kalangan NU. Tetapi pendapat ini juga memiliki kelemahan karena tanggal 1 kalender islam tidak bisa ditentukan secara jangka panjang dan tidak pasti, harus dilihat langsung tiap awal bulan kalender islam.
Pemerintah telah menawarkan solusi, melalui Departemen Agama, yaitu dengan mengambil jalan tenggah, yaitu dengan kriteria terlihat nya bulan sabit tipis (kriteria visibilitas hilal), Jadi ditentukan suatu angka kesepakatan bahwa bulan sabit tipis pasti akan terlihat jika telah memenuhi syarat yaitu tinggi bulan sabit tipis dari ufuk saat matahari terbenam adalah minimal 2 derajad. Dengan solusi ini pendapat masing-masing pihak bisa dikompromikan, tetapi diperlukan kesadaran dari tiap pihak untuk menyadarinya, bahwa kesatuan umat islam lebih penting dan ukhuwah islamiyah harus selalu kita jaga. Dan Juga terbuka kesempatan untuk kembali mendiskusikan tentang kriteria terlihatnya bulan sabit tersebut, berapa minimal tinggi bulan yang dipersyaratkan sehingga bulan sabit terlihat. Diskusi ini dengan melibatkan para ahli ilmu astronomi dan kalangan ahli agama. Sehingga didapat suatu kriteria yang tepat dan benar.
Di masa kecil saya, tiap menunggu lebaran pasti saya deg-deg an, karena akan dibelikan baju baru oleh ortu saya dan pergi bareng sholat id. Tetapi sekarang kita juga deg-deg an menunggu lebaran, karena ada nya perbedaan hari merayakan idul fitri diantara teman2 dan saudara di sekitar kita.
Mengapa berbeda?, seharusnya kita di dalam satu negara indonesia merayakan lebaran bersama. Di negara lain di dunia juga di Arab Saudi, semua rakyat dan ahli boleh berpendapat tentang kapan merayakan idul fitri, tetapi keputusan akhir ditentukan oleh pemerintah, dan semua rakyat akan sukarela untuk patuh dan mengikuti keputusan pemerintah tentang waktu idul fitri. Bahkan ada negara yang menerapkan aturan dengan keras, bagi rakyat yang berbeda dalam waktu merayakan idul fitri dikenakan hukuman berupa denda uang atau penjara.
Kemudian apa yang terjadi dengan Indonesia, apakah karena demokrasi yang terlalu longgar, justru tidak membuat suatu keselarasan dan keharmonisan, atau karena ada penafsiran masing-masing pihak sehingga menghasilkan egoisme.
Insya allah di masa depan kita umat islam di indonesia bisa lebih bersatu dan lebih sejahtera dunia akhirat, amin.